Artikel ini adalah tulisan saya untuk buletin kampus, COMMED, kebetulan kemarin saya di tugasi untuk wawancara buat ngisi rubrik inspirasi. ini la
Pernahkah terbayang dalam pikiran kita, 5 tahun ke depan kita akan menjadi apa? Mungkin sebagian dari kita akan dengan lentang menjawab, menjadi dokter! Namun, apakah jawaban itu tepat? Belum tentu. Beberapa waktu lalu tim COMMED berhasil menemui mas agus fitranto, beliau adalah residen anak yang pernah mengabdi sebagai dokter PTT selama 2 tahun di kep. Kesui, Ambon. Berikut laporannya.
Kami menemui beliau setelah beliau menjadi pembicara dalam forum co-ass yang di bidani oleh kakak- kakak kita angkatan 2003, pada kesempatan tersebut beliau memberikan materi tentang future mind mapping. Kembali ke pertanyaan di atas, menurut beliau, jawaban di atas adalah salah atau minimal kurang tepat. Lebih lanjut beliau menerangkan, sebagai seorang mahasiswa kita sudah harus memiliki arahan yang jelas dalam menentukan kemana kita melangkah dalam beberapa tahun mendatang. Tidak hanya menjadi dokter tentunya, karena Insya Allah jawaban itu hampir pasti asalkan kita bersungguh – sungguh dalam kuliah. Maksudnya, kita harus lebih spesifik dalam merencanakan hidup, apakah akan menjadi dokter umum biasa, spesialis, atau dokter sekaligus pengusaha. Beliau lalu mengisahkan kisahnya termasuk tentang konsep “peta hidup”. Dalam sebuah perjalanannya ke kota Kendal untuk menjaga klinik, beliau satu bangku dengan seorang dokter senior, dalam obrolannya beliau ditanya seperti pertanyaan di atas. Waktu itu jawaban beliau mungkin sama dengan kita kebanyakan, beliau waktu itu hanya mengikuti perjalanan hidupnya, tanpa merencanakan dulu dengan seksama tujuan akhirnya. setelah terjadi diskusi lalu beliau mengubah pandangannya dengan membuat “peta hidup” yang berisi target-target yang harus dicapainya dalam tahun – tahun mendatang.
Dalam rancangan besarnya beliau mempunyai 3 visi, yang salah satunya adalah menjadi dokter anak yang professional, dan beliau merencanakan akan mengambil spesialis anak dalam jangka waktu 3-4 tahun mendatang sejak saat itu. Namun tantangan yang baru muncul, karena beliau berasal dari keluarga yang “pas-pasan” dalam segi ekonomi, maka tidak mungkin pada saat itu jika beliau mengandalkan bantuan dari orang tua lagi, sedangkan jika membuka praktek di pulau jawa, dalam waktu tersebut juga belum tentu bisa menabung untuk melanjutkan studi. Suatu ketika, beliau ditawari untuk mengabdi sebagai dokter PTT di Maluku. Setelah dibicarakan dengan keluarga dan sesuai dengan visi hidupnya yang lain, yaitu sebagai da’i produktif yang bisa mengabdi dan mengajak masyarakat untuk berbuat baik, beliau menerima tawaran itu walaupun keluarga dengan berat hati melepaskan terutama sang ibu.
Awalnya beliau bertugas di P.Seram bag. Timur kep.Maluku, tetapi karena ada pemerataan tenaga medis akhirnya beliau ditugaskan di pulau kesui. Tantangan sesungguhnya ada ketika beliau tiba di pulau ini. selama 1 bulan pertama, beliau tidak bisa tinggal di rumah dinasnya,hal ini karena rumah dinasnya roboh diterjang ombak. Selain itu, di pulau ini tidak ada jaringan listrik PLN, tetapi listrik dari diesel, itupun hanya 6 jam per hari, untuk saluran komunikasi masih bisa dilakukan melalui radio ke pulau terdekat. Perjalanan kesana pun tergolong amat susah, hanya bisa dengan perahu yang ada 1 bulan sekali, itupun dengan waktu tempuh 2 hari 2 malam dari ambon. Perlu di ketahui, di P.kesui ini, beliau adalah dokter pertama yang bertugas disana dari awal adanya Negara Indonesia tercinta ini, dan disana beliau hanya ditemani oleh 2 orang perawat. Ketika ditanya ada tidak pengalaman yang berkesan?, beliau menjawab,”saya pernah di datangi keluarga pasien untuk menolong persalinan yang sudah terhenti selama 2 hari. Kepada saya, pasien tadi bilang bahwa jarak tempuh ke rumahnya sekitar 30 menit, lewat jalan setapak. Ketika itu saya masih 2 hari tugas, dan belum tau medan. Ternyata setelah mengikuti keluarga pasien tadi dari belakang dengan jalan kaki, medan yang harus saya lalui sangat berat, bahkan saya harus merayap memanjat bukit karena kemiringannya sangat curam, dan melewati sungai. Saya baru sampai di rumah pasien setelah berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam. Sampai disana ternyata sudah ditunggu keluarga pasien yang lain. Alhamdulillah, setelah di tolong bayi yang sudah 2 hari tertahan itu akhirnya bisa keluar, walaupun akhirnya meninggal. Saya sempet takut kalau – kalau keluarga pasien marah, dan terjadi apa – apa dengan diri saya. tetapi, Alhamdulillah mereka bisa mengerti, karena ternyata sebelum itu, sang dukun bayi yang mengani ibu tadi juga sudah memvonis bahwa bayinya meninggal.”
Selain cerita diatas, beliau juga pernah dianggap “orang sakti” oleh sebagian warga disana karena berhasil mengusir “roh halus” yang masuk ke salah satu tubuh pasien. Ceritanya waktu itu beliau diundang untuk menangani ibu-ibu yang sakit aneh, tatapan matanya kosong, dan hanya diam saja. Setelah di cek vital sign-nya normal semua, ketika beliau membaca ta’awudz mata dari ibu tadi tiba-tiba terbelalak, dari situ beliau mulai curiga kalau yang diderita ibu ini bukan sakit biasa. Beliau lalu melanjutkan dengan membaca ayat-ayat al-qur’an, dan do’a. Akhirnya jin yang ada di dalam tubuh ibu tadi keluar dan malah masuk ke dukun yang sebelumnya mencoba mengobati ibu tadi.
Beliau menjelaskan menjadi dokter PTT mempunyai nilai plus tersendiri, karena dengan menjadi dokter PTT dapat melatih mental, dan memberikan kepada kita gambaran bahwa ternyata kondisi kesehatan masyarakat masih banyak yang belum sesuai dengan harapan terutama di daerah – daerah terpencil. Menjadi dokter PTT juga mengasah kemampuan kita untuk menerapkan manajemen kesehatan, nilai-nilai kepemimpinan, dan kepekaan sosial untuk beradaptasi dengan lingkungan, karena tak jarang sebagai seorang dokter di daerah terpencil, kita dipandang sebagai orang “pintar” yang tahu akan segala hal, sehingga hal itu seharusnya bisa kita gunakan untuk membina masyarakat setempat. Pendekatan – pendekatan yang kita lakukan pun harus dengan sehalus mungkin. Dalam melakukan pendekatannya kepada masyarakat, beliau terlebih dahulu mendekati para pemimpinnya, beliau juga memanfaatkan forum ibu-ibu disana untuk memberikan pengarahan, akan tetapi itupun tidak bisa dengan cara-cara yang frontal mengingat adat dan kebiasaan yang sudah menjamur. Dalam masa tugasnya bliau berhasil mengubah sebagian besar masyarakat disana yang awalnya punya kebiasaan buruk makan tidak teratur dan minum kopi dengan kadar yang berlebihan menjadi teratur dan minum kopi dengan kadar yang normal dalam waktu kurang lebih 3 bulan.
Di akhir perbincangan kami, beliau yang mempunyai visi untuk menjadi dokter anak professional, da’i yang produktif, dan pengusaha yang mandiri ini, menasehatkan kepada kita agar serius dalam mempelajari ilmu kedokteran saat di bangku kuliah, jangan setengah – setengah. Apalagi jika nanti ingin mengabdi di daerah terpencil, jangan sampai nantinya kita malah menjadi beban di masyarakat, karena menjadi dokter yang asal-asalan. Rencanakan dengan matang setelah ini kita akan menjadi apa, agar arahan kita setelah lulus jelas dan tidak kebingungan. Juga tidak lupa untuk selalu berdo’a agar diberikan jalan keluar yang terbaik. Contohnya adalah beliau sendiri, studi yang sekarang dijalaninya adalah beasiswa dari dinkes tempat asalnya bertugas.
Semoga bisa bermanfaat. (FAM)
Nama : Agus Fitrianto
TTL : Cilacap, 2 agustus 1981
Alamat : Jl. Tampomas Utara No.58
Pendidikan : SDN Kr.Nangka, cilacap, SMP N I Nusawungu, cilacap, SMA N 2 Purwokerto, FK UNDIP, PPDS anak FK UNDIP
Motto hidup : Berjuanglah, atau pulang saja!
Hp : 081343008170
e-mail : dr_kesui@yahoo.com
blog : www.kesuiexpedition.wordpress.com


Comments :
0 komentar to “kesui expeditition”
Poskan Komentar