bulan april yang lalu, bisa dibilang sebagai bulan yang penuh kejutan buat saya. banyak hal yang terjadi, mulai dari hari2 penuh ujian, sampai mendengarkan banyak sekali curhatan dari teman2. dan coba tebak apa temanya!? rata2 dari yang semua saya dengar itu, sebagian besar cerita tentang masalah yang sama, yang masalah itu merupakan fitnah terbesar bagi lelaki. Yap,, ttg wanita!
nggak tahu kenapa, banyak dari mereka yang curhat masalah itu ke saya. padahal saya sendiri belum berpengalaman ttg itu, saya belum menikah. dan -Alhamdulillah- dulu nggak pacaran. jangan berprasangka yang bukan2 dulu ya.. bahasan yang d bahas bukan bagaimana untuk dapat wanita untuk di pacari, bukan! sama sekali bukan!. mereka rata2 curhat, bagaimana mengatasi fitnah tersebut. yah, hal ini memang jadi masalah tersendiri bagi kami, para lelaki, yang memang lebih. Allah memang memberikan kepada kita rasa cinta, bukan apa2, karena tanpa rasa tersebut, bagaimana rasanya hidup ini? pastinya kehidupan akan datar2 saja, karena tidak ada harapan yang ingin kita dapat. tetapi, salah dalam mengelola cinta itu, bukan kebahagiaan yang di dapat tapi malah menyesal nantinya karena adzab di dapat.
Satu lagi yang menarik buat saya. di bulan april kemarin pula, saya dan teman2 di FMA (forum muslim angkatan) 2006, kembali lagi untuk mengaktifkan organisasi tersebut yang selama kurang lebih 1,5 th vakum. alhamdulillah, ada semacam semangat baru yang ditunjukkan oleh teman2 saya, mereka rata2 mempelajari islam secara intens baru ketika menginjak bangku kuliah ini. akan tetapi semangat dan keistiqomahan yang ditunjukkan, secara perlahan tapi pasti mereka tampakkan dan d aplikasikan di dalam kehidupannya. hal ini, tentu saja membuat hati saya senang, dan sekaligus sebagai bahan introspeksi untuk diri saya. karena akselerasi yang mereka tampakkan bisa dibilang cepat, dan saya malah terkadang tertinggal. termasuk bentuk curhatan tadi, pola pikir dari teman2 alhamdulillah sudah mulai bergeser. tidak lagi menjadikan pacaran sebagai solusi untuk menyalurkan nafsunya, tetapi bagaimana mengelola cinta ini tanpa harus terkena dosa.
satu hal yang bisa saya ambil pelajaran dari pengalaman ini. sebagai makhluk sosial, saya fikir kita memang harus bisa menempatkan posisi sebaik mungkin, kaitannya dengan perkara watawaa shoubil haq watawaa shoubisshabr (QS.al-asr:3). karena ternyata banyak yang membutuhkan kita, untuk saling menguatkan tentunya, dalam kebenaran dan juga dalam kesabaran. oleh karena itu kita juga harus sealu di tuntut untuk selalu meningkatkan kualitas diri. agar apa yang kita sampaikan tidak hanya sebatas "tong kosong". dan dengan metode ini -dkwah fardhiyah-, saya rasa jauh lebih mengena dan efektif. karena kita bisa langsung menyentuh kepada permasalahan yang di hadapi oleh lawan bicara kita. satu lagi, menjadi pendengar bukanlah hal yang mudah, tapi bisa untuk selalu d upayakan. Setujukah..?
11.45 WIB. lobby FK UNDIP. alhamdulillah koneksinya lagi cepet


nyoba koment