Senin, 10 Agustus 2009

renungan untuk diriku dan sahabat



Suatu ketika, dalam majelis koordinasi seorang akhwat berkata pada mas’ul dakwahnya, “akhi, ana ga bisa lagi berinteraksi dengan akh fulan”. Suara akhwat itu bergetar. Nyata sekali menekan perasaannya.”Pekan lalu, ikhwan tersebut membuat pengakuan yang membuat ana merasa risi dan….Afwan, terus terang juga tersinggung.” Sesaat kemudian suara dibalik hijab itu mengatakan….ia jatuh cinta pada ana.”

mas’ul tersebut terkejut, tapi ditekannya getar suaranya. Ia berusaha tetap tenang. “Sabar ukhti, jangan terlalu diambil hati. Mungkin maksudnya tidak seperti yang anti bayangkan.” Sang mas’ul mencoba menenangkan terutama untuk dirinya sendiri.

“Afwan…ana tidak menangkap maksud lain dari perkataannya. Ikhwan itu mungkin tidak pernah berpikir dampak perkataannya. Kata-kata itu membuat ana sedikit banyak merasa gagal menjaga hijab ana, gagal menjaga komitmen dan menjadi penyebab fitnah. Padahal, ana hanya berusaha menjadi bagian dari perputaran dakwah ini.” sang akhwat kini mulai tersedak terbata.

“Ya sudah…Ana berharap anti tetap istiqamah dengan kenyataan ini, ana tidak ingin kehilangan tim dakwah oleh permasalahan seperti ini”. Mas’ul itu membuat keputusan, “ana akan ajak bicara langsung akh fulan”

Beberapa Waktu berlalu, ketika akhirnya mas’ul tersebut mendatangi dulan yang bersangkutan. Sang Akh berkata, “Ana memang menyatakan hal tersebut, tapi apakah itu suatu kesalahan?”

Sang mas’ul berusaha menanggapinya searif mungkin. “Ana tidak menyalahkan perasaan antum. Kita semua berhak memiliki perasaan itu. Pertanyaan ana adalah, apakah antum sudah siap ketika menyatakan perasaan itu. Apakah antum mengatakannya dengan orientasi bersih yang menjamin hak-hak saudari antum. Hak perasaan dan hak pembinaannya. Apakah antum menyampaikan kepada pembina antum untuk diseriuskan?. Apakah antum sudah siap berkeluarga. Apakah antum sudah berusaha menjaga kemungkinan fitnah dari pernyataan antum, baik terhadap ikhwah lain maupun terhadap dakwah????” Mas’ul tersebut membuat penekanan substansial. ” Akhi bagi kita perasaan itu tidak semurah tayangan sinetron atau bacaan picisan dalam novel-novel. Bagi kita perasaan itu adalah bagian dari kemuliaan yang Allah tetapkan untuk pejuang dakwah. Perasaan itulah yang melandasi ekspansi dakwah dan jaminan kemuliaan Allah SWT. Perasaan itulah yang mengeksiskan kita dengan beban berat amanah ini. Maka Jagalah perasaan itu tetap suci dan mensucikan.”

Cinta Aktivis Dakwah

Cerita di atas, saya yakin kita semua pernah membacanya. sebuah kisah yang sangat mungkin terjadi bagi diri kita dewasa ini dimana fitnah dari makhluk bernama wanita itu sungguh berat terasa. Lalu Bagaimana ketika perasaan itu hadir. Bukankah ia datang tanpa pernah diundang dan dikehendaki?
Jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukanlah perkara sederhana. Dalam konteks dakwah, jatuh cinta adalah gerbang ekspansi pergerakan. Dalam konteks pembinaan, jatuh cinta adalah naik marhalah pembinaan. Dalam konteks keimanan, jatuh cinta adalah bukti ketundukan kepada sunnah Rosullulah saw dan jalan meraih ridho Allah SWT.

Ketika aktivis dakwah jatuh cinta, maka tuntas sudah urusan prioritas cinta. Jelas, Allah, Rosullah dan jihad fii sabilillah adalah yang utama. Jika ia ada dalam keadaan tersebut, maka berkahlah perasaannya, berkahlah cintanya dan berkahlah amal yang terwujud dalam cinta tersebut. Jika jatuh cintanya tidak dalam kerangka tersebut, maka cinta menjelma menjadi fitnah baginya, fitnah bagi ummat, dan fitnah bagi dakwah. Karenannya jatuh cinta bagi aktivis dakwah bukan perkara sederhana, sekali lagi, bukan perkara sederhana!.

Ketika Ikhwan mulai bergetar hatinya terhadap akhwat dan demikian sebaliknya. Ketika itulah cinta ‘lain’ muncul dalam dirinya. Cinta inilah yang akan kita bahas disini. Yaitu sebuah karunia dari kelembutan hati dan perasaan manusia. Suatu karunia Allah yang membutuhkan bingkai yang jelas. Sebab terlalu banyak pengagung cinta ini yang kemudian menjadi hamba yang tersesat. Bagi aktivis dakwah, cinta lawan jenis adalah perasaan yang lahir dari tuntutan fitrah, tidak lepas dari kerangka pembinaan dan dakwah. Suatu perasaan produktif yang dengan indah dikemukakan oleh ibunda kartini,” …akan lebih banyak lagi yang dapat saya kerjakan untuk bangsa ini, bila saya ada disamping laki-laki yg cakap, lebih banyak kata saya…..daripada yang saya usahakan sebagai perempuan yg berdiri sendiri..”

Cinta memiliki 2 mata pedang. Satu sisinya adalah rahmat dengan jaminan kesempurnaan agama dan disisi lainnya adalah gerbang fitnah dan kehidupan yg sengsara. Karenanya jatuh cinta membutuhkan kesiapan dan persiapan. Bagi setiap aktivis dakwah, bertanyalah dahulu kepada diri sendiri, sudah siapkah jatuh cinta???jangan sampai kita lupa, bahwa segala sesuatu yang melingkupi diri kita, perkataan, perbuatan, maupun perasaan adalah bagian dari deklarasi nilai diri sebagai generasi dakwah - generasi Islam. Sehingga umat selalu mendapatkan satu hal dari apapun pentas kehidupan kita, yaitu kemuliaan Islam dan kemuliaan kita karena memuliakan Islam.

Deklarasi Cinta

Permasalahannya,, banyak diantara kita yang terjebak dalam “rasa” ini pada waktu yang belum tepat. Pada waktu yang kita belum siap untuk mendeklarasikannya secara utuh, dan menuai beribu-ribu pahala. Bahkan mungkin ketika kita sedang dalam keadaan lemah iman, ada sedikit perasaan iri pada dirikita terhadap saudara kita yang lain yang dengan bebasnya menjalin sebuah hubungan dengan lawan jenis. Padahal seharusnya kita sedih melihat hal tersebut, dan berusaha untuk melepaskan ikatannya (tentunya dengan cara – cara yang baik). Jangan sampai malah kita yang terpengaruh akan hal itu.
Lalu apa yang mesti kita lakukan untuk diri kita sendiri, menyikapi hal ini? bila memang kita belum siap untuk mendeklarasikan cinta secara utuh dalam bingkai syar’i. janganlah kita pupuk rasa itu dengan senantiasa untuk berusaha terikat dengan nya. Entahlah itu dengan saling bertukar sms, saling berkirim wall via facebook, atau bahkan menyengaja untuk terlibat dalam satu kelompok dengannya (karya tulis, praktikum, dLL.). pepatah jawa bilang: “witing tresno jalaran soko kulino”. Pepatah ini sedikit banyak benar. Karena terkadang benih cinta tumbuh karena meningginya intensitas kita untuk bertemu dengannya. Karena ketika rasa itu semakin menjadi – jadi justru kita sendiri yang akan rugi. Kemana – mana selalu ada bayangan yang bergelayut di dalam otak kita. entah itu, warna bajunya, lambaian jilbabnya, atau bahkan bunyi klakson speda motornya! Jika tanda – tanda ini sudah mulai muncul pada diri kita, berhati – hatilah! Godaan syaitan itu sungguh nyata. Segera tutup pintu – pintu tadi. karena kali ini mereka mengirimkan senjatanya untuk membombardir rasa malu kita kepada Allah! malu karena ternyata kita lebih sering mengingatnya dalam shalat kita dari pada mengingat Allah sendiri! Dan di banyak ibadah – ibadah lainnya. Bahkan kita menjadikan “pujaan” itu sebagai tandingan Allah.

165. dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). Al-baqarah: 165.

Seorang tabi’in, fudhail bin iyadh menyatakan: meninggalkan suatu amal karena orang lain adalah riya’. Sedangkan mengerjakan suatu amal karena orang lain adalah syirik. Adapun ikhlas adalah ketika Allah menyelamatkanmu dari keduanya.

Bisa – bisa ibadah kita akan sia – sia, karena ternyata tidak kita kerjakan semata – mata karena Allah ta’ala.

Lalu bagaimana jika ada yang mengejar – ngejar kita? (PD mode*ON, hehe..). kita sebagai laki – laki, so pasti harus berani untuk tegas!. Tegas untuk menolak jika kita memang belum siap dan tegas untuk memberi penjelasan bahwa hubungan itu, tidak akan menjadi berkah, tapi malah sesuatu hal yang dimurkai Allah. trus bagaimana kalo sebenarnya kita juga mengiginkan dia menjadi pelengkap dari separuh agama kita? untuk yang satu ini, kita harus selalu yakin kawan,,, bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini sudah ada ketetapannya dari Allah.

…dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah Mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Qs. Ath-thalaq:3

Maka dari itu, kita perlu untuk sedikit mengubah pola pikir kita. Mengubah pertanyaan “Bagaimana mendapatkan dia?” Menjadi, Bagaimana caranya agar bisa menikah dengan sukses? Dan dengan begitu saya akan mendapatkan yang jauh lebih baik dari dia!.

Sungguh luar biasa sikap Ali RadhiAllahu ‘anhu, ketika mengetahui wanita yang dicintainya telah dilamar oleh orang lain yang waktu itu jauh lebih mumpuni dari pada dirinyasecara financial, sedangkan dirinya belum mempunyai keberanian untuk melamar fathimah. Ketika mengetahui Fathimah dilamar oleh Utsman bin Affan (atau Abu bakar ?, afwan lupa persisnya, mohon dikoreksi), seorang shahabat yang jauh lebih kaya darinya. Waktu itu, sahabat ‘Ali tidak bersikap seperti kebanyakan remaja sekarang (mutung, bunuh diri, stress, dsb.) tetapi beliau berfikir seperti di atas tadi, Sehingga menjadikan beliau makin giat untuk beribadah dan bekerja untuk bekal menuju pernikahan. Hingga kehendak Allah meyatukan mereka berdua dalam sebuah ikatan perkawinan (karena fathimah menolak lamaran tersebut, dan lebih memilih ‘Ali). Dan sejarah mencatat, ikatan perkawinan tadi sebagai sebuah rumah tangga yang sangat luar biasa. Memulai perkawinan pada usia 17 tahun dan tanpa bekal harta yang cukup. Bahkan ‘ali bin abi thalib ketika itu menikah dengan berbekal hutang!. Dan sejarah mencatat ‘Ali adalah shahabat yang miskin harta, akan tetapi tetap menafkahkan hartanya di waktu lapang maupun sempit, hingga di abadikan Allah dalam Al-Qur’an (lihat ababun nuzul Al-baqarah:274). Walaupun demikian seorang Ali muda mampu membina rumah tangganya dengan luar biasa, sehingga nantinya menghasilkan keturunan – keturunan yang menjadi penopang islam di masa selanjutnya.

Epilog
Setiap kita yang mengaku putra-putri Islam, setiap kita yg berjanji dalam kafilah dakwah, setiap kita yang mengikrarkan Allahu Ghoyatuna, maka jatuh cinta dipandang sebagai jalan jihad yang menghantarkan diri kepada cita-cita tertinggi, syahid fi sabililah. Inilah perasaan yang istimewa. Perasaan yang menempatkan kita satu tahap lebih maju. Dengan perasaan ini, kita mengambil jaminan kemuliaan yang ditetapkan Rosullulah. Dengan perasaan ini kita memperluas ruang dakwah kita. Dengan perasaan ini kita naik marhalah dalam dakwah dan pembinaan.

Betapa Allah sangat memuliakan perasaan cinta orang-orang beriman ini. Dengan cinta itu mereka berpadu dalam dakwah. Dengan cinta itu mereka saling tolong menolong dalam kebaikan, dengan cinta itu juga mereka menghiasi Bumi dan kehidupan di atasnya. Dengan itu semua Allah berkahi nikmat itu dengan lahirnya anak-anak shaleh yang memberatkan Bumi dengan kalimat Laa Illaha Ilallah. Inilah potret cinta yang sakinah, mawaddh, warahmah.
jadi…sudah berani jatuh cinta…??
wallahu’alam

terinspirasi dan disadur dengan beberapa perubahan dari majalah al izzah edisi 11/th4/jan 2005 M.
-Sebuah renungan, agar tidak mudah untuk mengumbar pandangan- 10/08/09 15.27 WIB
http://www.fikriamafazi.co.cc

Comments :

0 komentar to “renungan untuk diriku dan sahabat”

La ilaha illallah.. Muhammad Rasulullah

La ilaha illallah.. Muhammad Rasulullah
Isyhadu bi Ana Muslimun..

pengunjung

Website counter

Ngasi Makan ikan yuk (klik 2X pada gambar)

 

Copyright © 2009 by Sang Petualang