Kamis, 31 Desember 2009

Ngaji kok susah


Siang tadi saya pergi ke SMA tempat saya sekolah dulu untuk memimpin diskusi dengan kelompok diskusi islam kerohanian Islam. Ya semacam berbagi info dan nasehat, utamanya untuk selalu mengingat Sang Pencipta dan menjalankan perintah-Nya. Walaupun secara resmi sekolah libur, akan tetapi khusus untuk kelas tiga ada jam pelajaran tambahan sebagai persiapan UN. Sehingga anak – anak kelas tiga tetap masuk walaupun Cuma sampai tengah hari. Yang agak membuat saya sedih,, pesertanya semakin hari semakin hari semakin sedikit. Dan tadi mungkin adalah jumlah terparah, seperti jumlah gigi pada lagu anak-anak “burung kakak tua” alias tinggal dua orang yang hadir. Entah mungkin karena masih dalam nuansa liburan atau yang lain. Tetapi sepertinya kok ada yang salah dengan semangat pemuda/remaja Islam saat ini. karena hal tadi tidak Cuma terjadi di SMA saya, tetapi juga d beberapa SMA yang lain dan majelis- majelis ilmu.
Memang pada masa sekarang ini untuk menjadi seorang remaja yang istiqomah terhadap islam bukanlah perkara yang mudah. Akan tetapi sebaliknya, sulit dan akan banyak menemui hambatan di depannya. Jangankan untuk istiqomah,, untuk belajar saja mungkin tidak seberapa yang menjalaninya. Keinginan untuk belajar yang rendah ditambah lagi dengan kondisi lingkungan yang kurang mendukung, plus beberapa komentar miring tentang remaja yang justru sadar untuk belajar bagaimana untuk menyembah Tuhannya dengan benar menjadi salah satu factor resiko yang menyebabkan hal tersebut. Seringkali, dengan nada yang keheranan, orang justru akan mempertanyakan para remaja yang lebih banyak menghabiskan waktunya untuk mencari ilmu dien, dari pada menjalani umumnya kehidupan pemuda yang penuh dengan bersenang – senang, pacaran, music, ngegosip, dsb. Padahal di masa sekarang kesempatan untuk mencari ilmu dien sangat terbuka. Banyak majelis – majelis ilmu di selenggarakan dan buku-buku bagus di terbitkan.


Saya jadi miris ketika membandingkan para pemuda di masa Nabi dulu dengan saat ini (termasuk kualitas saya, jauh buanget!). Melihat kiprah zaid bin harits, Ali bin abi thalib, usamah bin zaid, al arqam bin abil arqam, dkk. Saat itu, tampaknya menjadi hal yang mustahil jika ada yang melakukannya saat ini. Bagaimana usamah bin zaid yang ketika itu masih berusia 18 tahun ditunjuk Nabi memimpin pasukan muslim menggempur tentara Romawi di Syam. Lalu Zaid bin Tsabit yang di usia 13 tahun sudah menguasai dua bahasa asing yang cukup berpengaruh ketika itu (Ibrani dan Suryani) dan ini beliau pelajari hanya dalam waktu 2 bulan!. Keahlian beliau dalam berbahasa ini membuat Rosulullah mempercayainya sebagai penerjamah Daulah Islamiyah ketika itu.
Mungkin memang tidak adil jika kita membandingkan generasi shahabat yang di sebut Allah sebagai generasi terbaik dengan generai saat ini. mereka berkembang dengan di bimbing langsung oleh Nabi yang berarti secara tidak langsung juga di bimbing oleh Allah.. sedangkan saat ini, para pemuda islam di kepung dari berbagai arah oleh pihak – pihak yang tidak suka jika mereka menemukan jalan-Nya. Akan tetapi yang harus selalu di ingat. Para pemuda tetaplah para pemuda, dalam hatinya selalu ada semangat yang besar yang sebetulnya rindu untuk di bina dan diarahkan dengan benar. Dalam lintasan sejarahpun,, berbagai peristiwa besar yang mengubah arah Dunia di masa setelahnya tidak pernah terlepas dari peran pemuda walau sekecil apapun. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk membinanya sehingga menjadi generasi hebat. Butuh kesabaran, ketelatenan dan dukungan dari berbagai pihak untuk membentuk generasi dengan karakter yang kuat dan hebat.
Terakhir, sebagai seorang muslim sudah seyogyanya kita untuk selalu belajar tentang apa yang Allah turunkan kepada kita. dan sebagai seorang pemuda islam tidak ada salahnya bagi kita untuk merenungi hadist ini, “Dari Ibnu Mas’ud RA. bahwasanya Nabi SAW. telah bersabda,”Tidak beranjak kaki anak adam dari hadapan Allah hingga ditanya tentang lima hal: tentang umurnya, dihabiskan untuk apa? Tentang usia mudanya, diisi dengan apa? Tentang hartanya, dari mana dia dapatkan dan digunakan untuk apa? Dan amalannya dari Ilmu yang dia miliki?”” diriwayatkan oleh At-Tirmidzi. Dan Jangan pernah minder dan sedih dikatakan sok atau apalah ketika kita mempelajari Islam.
Bukankah Allah berfirman “janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, Padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” jadi jangan khawatir, karena Allah akan meninggikan derajat orang – orang yang beriman. dan Tholabul ‘ilmi adalah salah satu cara untuk meningkatkan iman kita. semoga masa muda kita terisi dengan hari – hari yang bermanfaat. 22.45 WIB. 30-12-09


Read More..

Allah is The One

Allah is The One

Panduan Petualangan Hari ini


"Manusia terbaik adalah yang paling banyak bacaan dan ilmu Qur'annya, paling bertaqwa dan paling suka beramar ma'ruf nahi munkar serta paling rajin menyambung silaturahim." (HR. Ahmad)

Keberuntungan terbesar di dunia ini adalah engkau menyibukkan diri dengan segala hal yang lebih utama dan lebih bermanfaat untuk hari kemudian (Ibnu Qoyyim-Al Fawaid)

"Man Jadda wajada" -barang siapa bersungguh sungguh, pasti akan mendapatkan apa yang dicari-. (pepatah arab)

"Rahasia kejayaan hidup adalah kesiapan manusia untuk menyambut kesempatan yang menjelma." (anonim)




Renungan

Sapaan Jiwa


ShoutMix chat widget

Ajang silaturahmi

La ilaha illallah.. Muhammad Rasulullah

La ilaha illallah.. Muhammad Rasulullah
Isyhadu bi Ana Muslimun..

pengunjung

Website counter

Ngasi Makan ikan yuk (klik 2X pada gambar)

 

Copyright © 2009 by Sang Petualang