
Sepulang dari masjid beberapa waktu yang lalu, saya menyempatkan untuk jalan – jalan terlebih dahulu. Maksudnya untuk beli pulsa dan beberapa hal untuk teman saya begadang (waktu itu sedang ujian), sambil sekalian refreshing dengan keliling komplek kampung saya tinggal. Nah, entah kenapa jalan-jalan ini begitu menarik buat saya. karena ada tiga peristiwa yang QodarAllah (dengan takdir Allah) saya jumpai dan tidak saya sangka2 sebelumnya. dan bisa jadi mungkin Allah mengingatkan dan menegur saya lewat kejadian ini.
Pertama, saya bertemu dengan salah satu sahabat kecil saya yang sudah lama tidak pernah jumpa. Jadilah waktu itu kami ngobrol sekedarnya sambil saling menanyakan kabar kami, dan juga kawan2 kami yang lain. Nah, karena kawan saya ini sekarang mengabdi di Sekolah SD saya dulu akhirnya obrolan juga tertuju pada perkembangan sekolah saya itu. QodarAllah malam itu dia juga sedang dalam perjalanan kesana. Karena memang sedang luang, akhirnya saya menyempatkan untuk sekedar melihat lihat gedung SD saya (MI Al-Khoiriyyah I SMG) ditemani kawan saya itu. Sebuah sekolah di tengah kota yang masih bertahan dengan konsep madrasah dimana sekolah islam yang lain memilih untuk menjadi SDIT atau SMPIT. Subhanallah,, MI saya itu sekarang jauh lebih maju. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara kualitas dan prestasi. Walaupun berkonsep madrasah, tapi modern dan peka terhadap perkembangan jaman. oia, MI saya ini sudah sangat lama berdiri,, karena sudah ada dari jaman ibu saya, dan seluruh keluarga saya dari pihak ibu(termasuk bibi,paman,& sepupu2) semuanya sekolah disana. Ya semoga bisa menjadi salah satu tonggak pendidikan islam khususnya di semarang, dan menghasilkan lulusan2 yang luar biasa.
Kedua, melanjutkan perjalanan pulang, saya melewati sebuah gang kecil padat penduduk yang dulu sering saya lewati ketika pulang sekolah. Entah kenapa gang ini disebut gang malang. Mungkin bisa berarti malang=kasihan/dikasihani karena sebagian penduduknya memang kurang mampu, atau malang(bahsa jawa)= melintang karena letaknya yang melintang, dan menembus gang2 yang lain. Ketika lewat jalan ini, saya dicegat oleh kenalan lama. Dia dalam keadaan berkabung, sebab kakaknya meninggal. Dan waktu itu cerita bahwa dia sedang butuh uang untuk mengadakan kenduri kematian kakaknya yang memasuki hari ketujuh. Ironis memang,, disaat seseorang seharusnya dibantu karena baru saja ditinggal anggota keluarga, justru harus keluar uang lagi. Padahal islam tidak mengajarkan demikian (kenduri kematian memeringati 7,40hari dst,,), yang memang sebenarnya budaya agama hindu. Walaupun niatnya baik (mendoakan) tapi Nabi tidak pernah mencontohkan.. dan sudah disebutkan dengan jelas oleh beliau bahwa segala amalan yang tidak ada contohnya dari beliau maka amalan itu akan tertolak, man ‘amila amalan laisa alaihi amruna fahuwa roddun (HR.muslim). oleh karena itu cukuplah bagi kita Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman ibadah dan berislam, tanpa ditambah ataupun dikurangi dan perlu diingat bahwa agama ini sudah sempurna (QS 5:3).
Ketiga, setelah sampai di gang rumah, dari kejauhan saya melihat kerumunan para tetangga yang berkumpul di depan salah satu rumah. Setelah mendekat dan tanya ini itu pada beberapa tetangga,saya jadi tahu kenapa mereka ramai berkumpul. Hal ini karena nenek penghuni rumah yang ini ternyata jatuh dan pingsan lama. Malangnya, nenek ini hanya tinggal bersama cucunya yang ketika itu baru saja datang dari kampus. Kalau saja si cucu ini pulang lebih larut, bisa jadi si nenek semakin lama tidak ada yang menolong. Ketika masuk kedalam rumah untuk melihat keadaan nenek itu, saya langsung dipanggil oleh ibu2 tetangga yang menunggui nenek tadi untuk memeriksa. cek tanda2 vital, jalan nafas lancer, nadi lemah, lidah terlihat agak menggantung, dan tampak sedikit lebam tanda benturan kepala. Tanpa pikir panjang, karena khawatir cedera kepala langsung saja dibwa kerumah sakit. Dan memang ternyata ada perdarahan cmn saya tidak tahu pastinya dimana(lupa).
Hikmah dari kejadian itu,, tidak sepantasnya seorang orangtua di tinggal begitu saja sendirian di rumah tanpa ada yang menemani. Walaupun mungkin sebagai anak sukses secara materi, dan rutin mengirim uang, tetapi menurut saya tetap tidak pantas jika harus menginggalkan orang tuanya sendiri menghabiskan hari tua. Karena materi bukan segalanya.. ada hal lain yang lebih penting. Yaitu kasih sayang. Dan sebesar apapun pengabdian seorang anak kepada orangtua, tetap tidak bisa menggantikan jasa orang tua kepada kita.


Comments :
0 komentar to “Pengingat dari Sang Pecinta”
Poskan Komentar